Notification

×

Iklan

Iklan

SEJAK 1949 WALIKOTA PEREMPUAN, DARI TIENE WAWORUNTU HINGGA Prof. JPAR.

Rabu, 04 November 2020 | 21:09 WIB Last Updated 2020-11-04T13:44:46Z



 Oleh : Albert P Nalang 


MANADO KOMENTAR - Tersisa 35 hari Pencoblosan di 979 Tempat Pemungutan Suara (TPS) akan dimulai pada tanggal 9 desember 2020, maka kita perlu mencermati Harapan-harapan kaum perempuan pada pemimpin Kota Manado menyangkut keberpihakan, paling tidak bisa terjawab bila warga mulai memikirkan figur perempuan yang bisa dikedepankan saat Manado memilih walikota dan wakilnya. Figur perempuan pemimpin memang belum banyak.


Tetapi Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene. MS. DEA. JPAR. Bila objektif melihat siapa yang tengah menjalani tugas sebagai salah satu pemangku kebijakan pada periode 2016-2020 sebagai Rektor di Universitas Manado (Unima)


Pada saat itu dimana hasil Pemilihan yang menyisahkan tiga kandidat akhirnya dimenangkan oleh Prof Dr J.A.P. Runtuwene DEA , dengan memperoleh 59 suara menyisihkan dua Calon lainnya yaitu, Prof Dr J.A.M Rawis 19 suara, dan Dr Raymond Rumampuk memperoleh 26 suara.


Saat ini disisa waktu 35 hari Prof. JPAR, dalam panji Restorasi dan dua partai pengusung lainnya akan senantiasa merebut hati masyarakat Kota Manado. Artinya tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan berkehendak (Nothing Imposible If God Work On) 


Sebagai Calon Walikota Manado nomor urut 4 yang berpasangan dengan Harley Alfredo Benfica Mangindaan (HABM) dalam jargon PAHAM (Paula-Harley vor Manado.


Sebagai seorang Akademisi, JPAR adalah Ketua PKK Kota Manado. Langkahnya menjadi calon Walikota tergolong menakjubkan, karena mampu didukung oleh 6.895 Ibu-Ibu PKK dari 11 Kecamatan, 87 Kelurahan, dan 504 lingkungan. 


Tentunya dari data KPU bagi DPT Perempuan 166.742 didalamnya kurang lebih ada 10.000 pengurus dan anggota PKK. Sehingga 

keseluruhan DPT di Kota Manado 328.539 pemilih.


Sudah saatnya perempuan dalam hal ini Prof. Julyeta Paulina Amelia Runtuwene berpartisipasi aktif membangun bangsa dan negara melalui jalur politik. Oleh karena itu, perempuan politik merupakan aset besar milik bangsa yang harus terus didorong maju, bukan hanya kuantitas, melainkan juga kualitasnya.


Sejarah pun mencatat  bahwa wali kota wanita pertama di Indonesia memerintah di Manado. Yakni Agustine Magdalena  Waworuntu dengan panggilan akrabnya Tiene 


Memerintah di Manado sejak akhir 1949. Wanita Kelahiran 4 Juni 1899  menjadi walikota melalui sebuah pemilihan umum (terbatas).


Megi Samuri salah satu tokoh masyarakat menyampaikan Perempuan harus diwakili karena keterwakilan perempuan dalam dunia politik membuat berbagai masalah kemanusiaan terungkap,


 "Apalagi saat ini perempuan semakin berkapasitas dan setara dengan laki-laki, buktinya DPT di Kota Manado pemilih terbanyak dari kalangan perempuan dengan jumlah 166.742 sedangkan laki-laki 161.797 dari total 328.539 DPT.


Justru Ibu. JPAR  kemungkinan besar bisa diunggulkan untuk memimpin Kota Manado 5 tahun kedepan yang berpasangan dengan Bang Harley dalam jargon PAHAM 

nomor urut 4 Paula-Harley voor Manado," ungkap IRT yang tinggal di kampung lumba-lumba Kelurahan Sindulang 2 ini.


Penulis adalah Pelaku Seni dan Wartawan Politik

×
Berita Terbaru Update