Headlines News :
Home » , , » MERRY BUAYA PEMANGSA MANUSIA AKHIRNYA MATI, PROSES OTOPSI DAN PENYELIDIKAN DILAKUKAN

MERRY BUAYA PEMANGSA MANUSIA AKHIRNYA MATI, PROSES OTOPSI DAN PENYELIDIKAN DILAKUKAN

Written By dhivan komentar on Senin, 21 Januari 2019 | 14:05

BITUNG KOMENTAR-Hewan buas yang sempat heboh memangsa perempuan di perusahaan budidaya mutiara di Desa Ranowangko, Kecamatan Tanawangko beberapa waktu lalu kini, ditemukan mati pada Minggu Pagi (20/1/2019) setelah satwa jenis Buaya Muara ini dievakuasi kolam penampungan air untuk kebakaran Hutan, Kantor Daops Manggala Agni (Pasukan kebakaran hutan dan lahan) Kementerian Kehutanan di Kelurahan Batuputih kecamatan Ranowulu kota Bitung. Merry nama Buaya jenis buaya Muara, dengan berat 800 KG dengan umur diperkirakan 20 sampai 30 tahun akhirnya meninggal di Batuputih.

Buaya dengan Panjang 4,4 Meter dan berat sekitar 800 Kg tersebut awalnya ditemukan oleh piket petugas Manggala Agni dan Piket Resort Taman Wisata Alam Batuputih dalam keadaan lemah Minggu Subuh (20/1) jam 04.45 Wita. “Saya sendiri kaget ketika subuhnya mendapat laporan anggota jika sejak malam sampai subuh itu tidak ada pergerakan dari buaya tersebut sehingga saya minta semua piket untuk tetap memantau pergerakan satwa ini,” kata Komendan Daerah Operasi Manggala Agni Sulawesi dan Gorontalo Hambali Mokoagouw SH, MH.

Pun demikian pagi harinya sekitar jam 06.12 wita saya mendapatkan laporan lagi jika masih sama tidak ada pergerakan, sehingga saya minta piket dari Manggala Agni untuk turun ke kolam. “Saat itu juga saya meminta kepada anggota dilapangan coba turun ke kolam dan memastikan kondisi satwa itu. Dan dari laporan rekan-rekan di sana kondisinya sangat lemah bahkan oleh anggota yang turun ke kolam dipastikan masih ada hembusan anggin dari hidung Merry,” ungkap jebolan Mahasiswa Pencinta Alam Bebas Justitia Fakultas Hukum Unsrat ini.

Namun demikian, dirinya tidak berhak menjawab soal kesehatan dari Merry. “Laporan tadi adalah laporan pandangan mata dari piket, pastinya seperti apa, itu kewenangan dokter Hewan yang ditunjuk BKSDA dan Polres Tomohon sebagai penyidik kasus itu,” katanya.

Dan Laporan lanjutan kata Hambali dari Anggota pada pukul 08.42 wita kondisi satwa tersebut sudah sekarat,
Melihat keadaan seperti itu, Hambali langsung berkoordinasi dengan pihak BKSDA melaporkan kondisi Merry. “Dalam Laporan Piket, tertulis jika pihak Dokter Hewan yang didatangkan dari Pusat Penyelamatan Satwa Tasik Koki (PPST) masuk ke Markas dan memeriksa Merry sekitar Jam 10 pagi” katanya.

Dia sendiri tak bisa memastikan jam Kematian buaya bernama Merry ini. “Soal itu yang harus menjawab adalah pihak dokter yang memeriksa ataupun pihak BKSDA. Memang dari informasi yang didengar rekan-rekan di markas hasil pembicaraan dengan dokter hewan yang memeriksa, rupanya Merry sudah mati,” katanya.

Sementara itu, Kepala Seksi Wilayah 1 BKSDA Sulut Yakop Ambagau memastikan jika dalam laporan yang diterima pihaknya, benar jika Buaya raksasa tersebut sudah mati. “Soal penyebab kematian satwa ini, kami belum bisa mengetahuinya karena saat ini sementara berlangsung otopsi di markas Dapos Manggala Agni yang dilakukan oleh pihak Polres Tomohon dan Dokter Hewan dari PPST,” katanya.
Soal kematian Merry sendiri dipastikannya mati pada Minggu (20/1) pagi hari. “Kemungkinan dia mati pada pagi di hari Minggu, sekitar pukul 10.00 wita,” kata laki-laki kekar ini.

Untuk penguburan Mery pihak BKSDA belum mempunyai tanggal pasti karena proses Otopsi masih dilakukan. “Tinggal menunggu proses otopsi dan semuanya diserahkan kepada pihak Polres Tomohon. Kami hanya menunggu. Jika proses penyidikannya sudah selesai maka kami siap untuk penguburannya,” kata Ambagau.

Kepala Tatausaha BKSDA Sulut Hendrik Ruindengan saat dikonfirmasi menjelaskan jika umur dari Merry ini diperdiksi sekitar 20 sampai 30 Tahun. “Laporan pemilik umur Merry sudah sekitar 20 Tahun, namun ada Masayrakat jika yang menjadi saksi kejadian ini, menyebutkan jika Merry ada di Tanahwangko sudah besar. Sehingga prediksinya 20 sampai 30 tahun,” ungkapnya seraya meminta kepada warga Sulut jika memang ingin memelihara satwa dilindungi secara aturan itu diperkenankan asalnya menapatkan ijin dari pihak BKSDA. “Karena kami akan melakukan pendampingan soal Makanan sampai kendang,” katanya.

Sumber : Beritasungai
Share this post :
 
Support : komentar.co.id | Jmanado IT | HH
Copyright © 2015. Komentar Manado - All Rights Reserved
By Creating Website Manado IT Admin
Proudly powered by Server Google